Orang beriman itu tidak gembira kecuali hanya gembira kepada Allah azza
wa-Jalla bukan pada lainnya. Kalau saja ada kegembiraan dan harus
gembira, maka gembiralah dengan cara menyerahkan hartamu untuk kepatuhan
kepada Allah Azza wa-Jalla, yang memberi manfaat untuk bakti kepada
Allah Azza wa-Jalla, dan menolong ummat untuk taat kepadaNya. Tetaplah
takut kepada Allah Azza wa-Jalla di malam hari dan siangmu, hingga anda
mendengar suara dalam hatimu dan rahasia hatimu.
Orang beriman, apabila telah kuat imannya ia disebut orang yang yakin
(muuqin). Apabila yakinnya kuat, ia disebut sebagai orang yang ’arif.
Apabila kema’rifatannya kuat ia disebut ’alim. Apabila ilmunya kuat ia
disebut pecinta (muhibb). Jika cintanya kuat, ia disebut sebagai sang
kekasih (mahbub)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar